Jepara dijuluki Kota Ukir. Jejak seni ukirnya dapat ditelusuri sejak masa Ratu Shima dan menguat pada masa Ratu Kalinyamat sekitar tahun 1549, ketika Desa Belakang Gunung menjadi pusat pengukir yang melayani kebutuhan keluarga kerajaan. Legenda setempat juga mengaitkannya dengan Prabangkara, ahli ukir yang disebut mengajarkan ukiran di daerah Mulyoharjo.
Seni ukir bangkit kembali pada masa R.A. Kartini, yang mengumpulkan pengukir Belakang Gunung untuk membuat peti jahitan, meja kecil, figura, dan cendera mata yang dijual hingga Semarang dan Batavia. Bahan yang paling umum digunakan adalah kayu jati; hasilnya kini berupa mebel, panel, dan hiasan yang dikirim ke berbagai daerah dan mancanegara.
Sumber: detik.com/jateng, "Asal-usul Jepara dan Sejarahnya Dijuluki Kota Ukir Berkelas Dunia" (detik.com/jateng/budaya/d-7071220); BPS/Pemkab Jepara untuk wilayah administratif.
Foto: "Tempat Tidur Ukiran Mewah Jepara" oleh Barokah Ukir Jepara, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.



